Menyikapi Euforia Tahun Baru ; Bijak dalam Menyambut Pergantian Waktu

Selamat Tahun Baru 2026

banner 468x60

BabelEkspress.News | JSCgroupmedia ~ Malam pergantian tahun sering kali menjadi puncak dari euforia yang tak terelakkan di berbagai belahan dunia. Pesta meriah, konvoi kendaraan, keramaian yang berlangsung hingga larut malam—semuanya menjadi gambaran umum yang sering kita lihat dalam menyambut datangnya tahun baru.

Namun, bagi sebagian kalangan, khususnya umat Islam, fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: Apakah memang perayaan tersebut sesuai dengan ajaran agama? Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi malam pergantian tahun dengan cara yang bijaksana dan sesuai dengan syariat?

banner 336x280

Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagai lembaga yang berperan dalam memberikan panduan agama kepada umat, melalui salah satu anggotanya, KH Zia Ul Haramein, memberikan imbauan untuk menyambut tahun baru dengan sikap yang lebih bijak, jauh dari euforia berlebihan yang sering kali melibatkan perilaku yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Dalam pandangannya, perayaan tahun baru bukanlah suatu hal yang memiliki dasar syariat dalam agama Islam. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa umat Islam tidak perlu menjadikannya sebagai sebuah perayaan khusus yang melibatkan kegiatan berlebihan.

Merayakan Tahun Baru: Antara Tradisi dan Syariat Islam

KH Zia Ul Haramein menjelaskan dengan tegas bahwa merayakan tahun baru dalam Islam tidak memiliki dasar syariat yang kuat. Dalam konteks hukum Islam, perayaan tersebut masuk dalam kategori *mubah*—hal yang boleh dilakukan, namun tidak dianjurkan atau diwajibkan.

“Merayakan tahun baru itu tidak ada syariatnya. Secara hukum, ia masuk dalam kategori mubah,” kata Kiai Zia saat dihubungi tim MUI Digital, Selasa, (30/12/2025) lalu.

Namun, ia juga menekankan bahwa meskipun secara hukum tidak dilarang, sesuatu yang bersifat mubah bisa berubah menjadi haram jika melibatkan israf atau sikap berlebihan dalam melakukannya. Dalam bahasa sederhana, israf adalah pengeluaran yang tidak pada tempatnya—menghamburkan harta, tenaga, dan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

See also  Diduga Kuat Dibunuh KKB, 11 Warga Pendulang Emas Tewas di Yahukimo

Sikap berlebihan atau *ghuluw* dalam Islam memang sangat dihindari. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya perbuatan yang berlebihan itu menjadikan seseorang jauh dari kebaikan.”

Ini adalah pengingat penting bagi umat Islam untuk tidak terjebak dalam perilaku konsumtif, terutama pada malam pergantian tahun, yang kerap kali diwarnai dengan pemborosan harta dan energi untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat.

Tahun Baru: Momentum untuk Introspeksi Diri

Malam pergantian tahun bisa menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Bagi umat Islam, perayaan yang melibatkan keramaian dan hiburan yang tidak produktif justru bisa menjadi peluang yang terlewatkan.

Dalam Islam, setiap waktu adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, dan pergantian tahun dapat dijadikan momentum untuk merenungkan perjalanan hidup, merencanakan amal saleh, serta memperbaharui niat dalam beribadah.

Kiai Zia mengajak umat Islam untuk mengisi malam tersebut dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti introspeksi diri, berdoa, atau membuat perencanaan untuk amal saleh yang lebih baik di tahun yang baru. “Isi malam itu dengan introspeksi, perencanaan amal saleh, memberi makan, mengajak pada kesantunan, dan kepedulian sosial,” jelas Kiai Zia.

Ini adalah pesan penting: pergantian tahun bukanlah sekadar tentang berpesta atau merayakan dengan cara yang tidak produktif. Sebaliknya, ini adalah waktu yang tepat untuk merenung dan merencanakan langkah-langkah yang lebih baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Dengan demikian, malam tersebut tidak hanya menjadi titik balik dalam kalender waktu, tetapi juga menjadi titik balik dalam perubahan hidup.

Berkumpul dengan Keluarga: Alternatif yang Lebih Bermakna

Di tengah keramaian malam tahun baru, Kiai Zia juga menekankan pentingnya berkumpul bersama keluarga. Alih-alih terlibat dalam konvoi atau pesta yang sering kali berisiko dan tidak produktif, berkumpul dengan orang-orang terdekat, seperti keluarga, bisa memberikan ketenangan batin yang jauh lebih bermakna.

See also  Pendidikan | Guru Besar Unnes Unggah Ijazah S1 UGM, Beda dengan Milik Jokowi

“Daripada keluar ke tempat-tempat keramaian, lebih baik berkumpul dengan keluarga. Itu lebih menenangkan dan lebih bermakna,” ujar Kiai Zia. Dalam Islam, keluarga adalah unit dasar yang sangat dihargai, dan mempererat hubungan dengan keluarga merupakan amal yang sangat bernilai di sisi Allah SWT.

Momen pergantian tahun bisa menjadi kesempatan untuk lebih dekat dengan orang-orang tercinta, berbicara, berbagi cerita, atau bahkan berdoa bersama untuk masa depan yang lebih baik.

Menghabiskan waktu bersama keluarga juga menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat, dan membantu menciptakan suasana yang lebih damai dan penuh makna. Tanpa perlu terlibat dalam euforia yang melampaui batas, kita bisa tetap merayakan pergantian waktu dengan cara yang lebih bijak dan penuh hikmah.

Sikap Bijak dalam Menghadapi Perbedaan Pandangan

Tidak jarang, anggota keluarga atau lingkungan sekitar kita memiliki pandangan yang berbeda mengenai perayaan tahun baru. Bagi sebagian orang, merayakan tahun baru adalah tradisi yang sulit untuk dilepaskan, meski menyadari adanya potensi pemborosan dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Dalam menghadapi situasi ini, Kiai Zia mengimbau umat Islam untuk bersikap bijak dan persuasif dalam memberikan nasihat.

“Nasihati dengan pelan-pelan, jangan frontal. Sikap ekstrem justru bisa kontraproduktif dan tidak membawa manfaat,” ujarnya. Menyampaikan nasihat dengan cara yang lembut dan penuh pengertian lebih efektif daripada menghakimi atau memaksakan pandangan. Dalam Islam, dakwah yang baik adalah dakwah yang menyentuh hati dan membangun kesadaran, bukan dengan cara yang memicu perpecahan.

Pergantian Tahun: Waktu yang Sama, Makna yang Berbeda

Pada hakikatnya, pergantian tahun adalah momen yang tidak berbeda dengan hari-hari lainnya. Yang membedakan hanyalah bagaimana kita memaknainya. Dalam Islam, setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, beribadah, dan memberi manfaat kepada sesama.

See also  Ketua TP PKK Babel Noni Hidayat Tinjau Penilaian Lomba HKG Tingkat Provinsi

Jadi, meskipun malam tahun baru sering kali disertai dengan kemeriahan dan perayaan yang berlebihan, kita tetap memiliki pilihan untuk mengisinya dengan kegiatan yang lebih bermakna dan bermanfaat.

“Muhasabah jauh lebih baik daripada berhura-hura. Kalau tidak ada hal bermanfaat yang dilakukan, tidur pun lebih baik daripada melakukan hal yang sia-sia,” tegas Kiai Zia.

Ini adalah panggilan bagi umat Islam untuk lebih bijak dalam menyambut pergantian tahun, tidak terjebak dalam kebiasaan yang tidak produktif, dan lebih fokus pada hal-hal yang dapat membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

Tahun Baru sebagai Momentum untuk Perubahan Positif

Malam pergantian tahun seharusnya tidak hanya dilihat sebagai momen untuk berpesta, tetapi sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan perencanaan yang lebih baik.

Mengisi malam itu dengan introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan keluarga, dan melakukan kebaikan sosial adalah cara yang lebih bijak dan bermakna untuk menyambut tahun yang baru.

Dengan demikian, kita dapat mengubahnya menjadi momentum untuk perubahan positif dalam hidup, meningkatkan kualitas ibadah, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Pada akhirnya, pergantian tahun adalah simbol dari waktu yang terus bergerak. Cara kita memaknai waktu tersebut, apakah untuk hal-hal yang bermanfaat atau justru untuk hal-hal yang sia-sia, tergantung pada niat dan keputusan kita. Mari jadikan setiap detik yang berlalu sebagai peluang untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih dekat dengan Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment